Pandeglang (Kemenag) – Balai Diklat Keagamaan (BDK) Jakarta menyelenggarakan Orientasi Penguatan Moderasi Beragama dan Ekoteologi bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap II Angkatan XIV Tahun 2026 di Kabupaten Pandeglang, Senin (26/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman ASN mengenai moderasi beragama, komitmen kebangsaan, serta kepedulian terhadap lingkungan dalam pelaksanaan tugas dan pelayanan kepada masyarakat.
Kegiatan dilaksanakan di dua lokasi, yakni Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang dan Aula Kantor Kementerian Haji Kabupaten Pandeglang. Sebanyak 100 peserta mengikuti kegiatan ini, dengan pembagian 50 peserta di setiap lokasi. Peserta berasal dari Kabupaten Lebak sebanyak 28 orang dan Kabupaten Pandeglang sebanyak 22 orang pada salah satu kelompok kegiatan.
Kepala BDK Jakarta, H. Ashif Ali Ghozi, S.Ag., M.M., dalam sambutannya menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan salah satu ikhtiar untuk menjaga kerukunan dan persatuan bangsa. Sebagai aparatur sipil negara (ASN), peserta orientasi diharapkan mampu mengimplementasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam sikap, perkataan, dan tindakan, baik di lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya tiga kompetensi ASN, yaitu kompetensi manajerial, sosial kultural, dan teknis. Kompetensi sosial kultural memiliki peran penting dalam membangun hubungan yang harmonis di tengah keberagaman serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Dalam sambutannya, Kepala BDK Jakarta turut mengingatkan peserta agar senantiasa menjaga lisan dan bijak dalam berkomunikasi. Ia mengutip hadis Rasulullah saw. yang mengajarkan umat Islam untuk berkata baik atau diam.
“Man kana yu’minu billahi wal-yaumil-akhiri falyaqul khairan aw liyashmut.”
Artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi ASN untuk berhati-hati dalam menyampaikan informasi, baik secara langsung maupun melalui media digital. Prinsip saring sebelum sharing perlu diterapkan agar informasi yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman atau memicu perpecahan.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memahami dan mengimplementasikan empat indikator moderasi beragama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, serta akomodatif terhadap budaya dan tradisi lokal. Keempat indikator tersebut menjadi landasan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, saling menghormati, dan tetap menjaga persatuan bangsa.
Selain moderasi beragama, peserta juga diajak memahami ekoteologi, yaitu pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui pemahaman ini, ASN diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Sementara itu, Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang H. Jamalufin, turut berperan dalam kegiatan tersebut, baik melalui penyampaian sambutan maupun sebagai pemateri. Dalam sambutannya, ia mengingatkan pentingnya menerapkan lima budaya kerja Kementerian Agama, yaitu integritas, profesionalitas, tanggung jawab, inovasi, dan keteladanan.
Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama tidak hanya membutuhkan pegawai yang memiliki kemampuan, tetapi juga ASN yang disiplin, hadir, dan konsisten dalam menjalankan tugas serta tanggung jawabnya.
“Catat apa yang kita kerjakan dan kerjakan apa yang kita catat,” menjadi pesan penting yang disampaikan sebagai pengingat agar setiap pekerjaan dilaksanakan secara terarah, terdokumentasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam sesi materi, Kasubbag TU menyampaikan kebijakan strategis Kementerian Agama tentang pengarusutamaan moderasi beragama dan ekoteologi, termasuk peta jalan pelaksanaannya. Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai arah kebijakan Kementerian Agama sekaligus pentingnya menerjemahkan kebijakan tersebut ke dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Ia juga mengajak peserta agar tidak memandang orientasi sekadar sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan, mengevaluasi diri, dan meningkatkan kualitas pengabdian. Penerapan nilai moderasi beragama dan kepedulian terhadap lingkungan perlu berjalan seiring dengan pelaksanaan lima budaya kerja Kementerian Agama.
Selain Kasubbag TU Kemenag Pandeglang, kegiatan ini menghadirkan Widyaiswara BDK Jakarta, Ahmad Wildanus dan Mohamad Djuanda, sebagai narasumber yang memberikan pembelajaran terkait penguatan moderasi beragama dan ekoteologi.
Melalui kegiatan orientasi ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami konsep moderasi beragama dan ekoteologi, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam perilaku sehari-hari, lingkungan kerja, dan pelayanan publik. Dengan demikian, ASN Kementerian Agama dapat berkontribusi dalam merawat kerukunan umat beragama, memperkuat persatuan bangsa, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.


