Rabu, 23 September 2026
spot_img
BerandaBeritaBedah Dua Buku di Pendopo Pandeglang, Teguhkan Pendidikan Madrasah Berbasis Ilmu dan...

Bedah Dua Buku di Pendopo Pandeglang, Teguhkan Pendidikan Madrasah Berbasis Ilmu dan Cinta

Pandeglang (Kemenag) – Pendidikan tidak hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diberikan kepada peserta didik, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut disampaikan dengan keteladanan, kepedulian, dan cinta. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah dua buku pendidikan Islam yang digelar di Gedung Pendopo Bupati Pandeglang, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Sekolah Tinggi Agama Islam Syekh Manshur (STAISMAN) Pandeglang dengan dukungan Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang dan Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang ini menghadirkan ruang diskusi bagi para pendidik dan insan pendidikan untuk memperkaya wawasan serta bertukar gagasan mengenai arah pendidikan Islam.
Dua buku yang menjadi bahan diskusi yakni Manajemen Cinta sebagai Hidden Curriculum di Madrasah karya Assoc. Prof. Dr. H. Akhmad Shunhaji, M.Pd.I., M.Pd. dan Hj. Helmi Halimatul Udhmah, M.Si., serta Ekosistem Mutu Pendidikan Islam: Paradigma Baru Menuju Pendidikan Islam Berdampak karya Hj. Helmi Halimatul Udhmah, M.Si. dan Dr. H. Ari Hasan Ansori, M.Pd.I., M.Pd.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang, H. Lukmanul Hakim, S.Ag., M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadikan madrasah sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga membangun karakter dan menghadirkan dampak nyata bagi kehidupan.
Menurutnya, gagasan tentang manajemen cinta dan ekosistem mutu pendidikan Islam menjadi pengingat bagi seluruh insan madrasah untuk terus memperkuat kualitas pendidikan melalui ilmu, keteladanan, kolaborasi, dan kepedulian terhadap peserta didik.
“Madrasah dibangun dengan ilmu, dikuatkan dengan sistem, dihidupkan dengan cinta, dan dibuktikan keberhasilannya melalui dampak nyata bagi kehidupan,” menjadi refleksi yang disampaikan dalam sambutannya.
H. Lukmanul Hakim juga menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku tidak semestinya berhenti ketika buku ditutup. Sebaliknya, gagasan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam lingkungan madrasah dan menjadi pemantik perubahan dalam proses pendidikan.
Sementara itu, Wakil Bupati Pandeglang H. Iing Andri Supriyadi, S.H., menyoroti besarnya peran guru dalam membentuk generasi penerus bangsa. Ia mengajak para guru untuk terus semangat dan istiqamah dalam mendidik putra-putri di Kabupaten Pandeglang.
Ia menekankan bahwa ilmu yang diberikan guru dan kemudian diamalkan oleh peserta didik dapat menjadi amal yang terus mengalir. Karena itu, profesi pendidik diharapkan senantiasa dijalankan dengan niat sebagai bagian dari ibadah, di samping tanggung jawab profesional dalam mencerdaskan generasi bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati juga menyampaikan dukungan Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang terhadap peningkatan kualitas pendidikan, termasuk melalui dukungan terhadap madrasah dan pembangunan sarana pendidikan.
Adapun Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama RI, Hj. Helmi Halimatul Udhmah, S.Sos., M.Si., mengajak para pendidik untuk menjadikan cinta sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
Menurutnya, peserta didik tidak hanya membutuhkan transfer ilmu, tetapi juga membutuhkan keteladanan, penghargaan, rasa aman, dan kepedulian dari para pendidik. Konsep hidden curriculum di madrasah, menurutnya, dapat hadir melalui suasana belajar, keteladanan guru, serta hubungan yang baik antara guru dan peserta didik.
Ia juga mengingatkan pentingnya meneladani Rasulullah SAW dalam mendidik dengan kelembutan, empati, komunikasi yang baik, serta penghargaan terhadap setiap peserta didik.
“Awali dengan cinta. Karena cinta adalah fondasi,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan kepada para guru.
Lebih lanjut, para pendidik diajak untuk memperhatikan keunikan setiap anak, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Setiap peserta didik perlu dihargai, disayangi, dan diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan, bakat, serta potensi yang dimilikinya.
Helmi juga mengaitkan konsep cinta dengan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, pendidikan yang dilandasi cinta semestinya tidak hanya membangun hubungan antarmanusia, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan lingkungan sekitar.
Kegiatan bedah buku tersebut diikuti sekitar 100 undangan yang terdiri atas unsur Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang, Pemerintah Daerah, STAISMAN Pandeglang, pengawas, ketua KKM, kepala madrasah, serta pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang.
Melalui kegiatan tersebut, bedah buku diharapkan tidak sekadar menjadi forum untuk membahas isi buku, tetapi menjadi ruang refleksi dan penguatan bagi para pendidik untuk menghadirkan pendidikan Islam yang bermutu, humanis, dan memberikan dampak nyata bagi peserta didik serta masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat sinergi antara Kementerian Agama, Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang, dan STAISMAN Pandeglang dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan Islam di Kabupaten Pandeglang.

 

BERITA LAINNYA

KEPALA KANTOR

FLAYER UCAPAN

BACA JUGA