Pandeglang (Humas) – Meskipun jaraknya hanya lima kilometer dari alun-alun Kecamatan Menes, namun tak mudah menemukan Masjid Jami’ Adzikri. Lokasinya terselip di tengah pemukiman padat Kampung Muruy Kecamatan Menes, Pandeglang.
Untungnya beberapa anak muda yang sedang nongkrong di pertigaan jalan dengan ramah dan antusias menunjukkan jalan, bahkan mengantar ke depan masjid bercat putih yang sebagian dindingnya telah dilapisi keramik berwarna telur asin.
Begitu masuk ke teras masjid, nuansa kuno langsung terasa, terutama dari dinding tebal khas jaman kolonial. Juga dari 4 buah tiang kayu segi enam bercat hijau di bagian dalam masjid. Terlebih tiang-tiang teras di sekeliling masjid yang membulat seperti pohon palem botol kian menambah kesan jadul.
Data dari KUA Kecamatan Menes menunjukkan bahwa di Desa Muruy terdapat 5 masjid, salah satunya adalah Masjid Jami’ Adzikri di Kampung Muruy. Yang lainnya yaitu Masjid Al-Mubarokah di Kampung Kokok, Masjid Al-Istiqomah di Kampung Pakojan, Masjid At-Taqwa di Kampung Pasir Kalapa dan Masjid Al-Ikhlas di Kampung Tamansari.
Dibanding empat masjid lainnya, Masjid Jami’ Adzikri tampaknya bukan masjid kampung biasa. Data KUA Kecamatan Menes menunjukkan masjid yang luasnya 18×12 m2 ini didirikan sekitar tahun 1908, saat Kolonial Belanda masih bercokol di tanah air.
Hal itu dibenarkan oleh H. Muhamad Ilyas, Ketua Dewan Keluarga Masjid (DKM) Jami’ Adzikri, saat ditemui di teras masjid kuno tersebut, Jum’at (23/04/2021). Bahkan menurut H. Ilyas, masjid yang tanahnya berstatus wakaf ini merupakan masjid kedua yang dibangun oleh Syekh Asnawi setelah Masjid Assalafi Caringin.
“Masjid ieu teh nu ngabanunna Mama Caringin. Patali gaduh istrina ka urang dieu. (Masjid ini dibangun oleh Mama Caringin. Karena beliau itu istrinya orang sini),” jelasnya.
Mama Caringin yang dimaksud H. Ilyas tentunya merujuk pada Syekh Asnawi Caringin, ulama sekaligus pejuang tanah Banten yang lahir pada tahun 1850 dan wafat pada tahun 1937. Jika menilik masa hidupnya antara tahun 1850-1937, sangat mungkin beliau membangun masjid pada tahun 1908 di Kampung Muruy.
Mengutip artikel Kiai Asnawi Caringin Ulama Pendekar dari Banten yang diposting di website nu.or.id, Kampung Muruy memiliki arti cukup penting dalam sejarah hidup Syekh Asnawi. Sebab ketika gunung krakatau meletus pada tahun 1883 yang menyebabkan gempa bumi dan tsunami, beliau beserta keluarganya mengungsi ke kampung tersebut. Bahkan kemudian menyunting gadis Muruy sebagai istrinya.
Secara arsitektur, Masjid Adzikri memiliki banyak kemiripan dengan Masjid Assalafi Caringin. Salah satunya terlihat dari 4 tiang dari kayu di ruang utama yang masih digunakan hingga sekarang. H. Ilyas mengaku tidak tahu persis jenis kayu yang digunakan untuk 4 tiang tersebut. Namun konon kayu-kayu itu didatangkan secara khusus dari kawasan Janaka, Kecamatan Jiput.
Meskipun ruang utama masjid kini telah diperkuat dengan tiang dan balok beton, keempat tiang kayu tersebut masih dipertahankan sebagaimana pertama kali didirikan. Hal ini sesuai dengan pesan Syekh Asnawi yang meminta ciri khas masjid ini dipertahankan.
“Amanat Mama Caringin wayahna ciri ti mama ulah sampe dileungitkeun. Makana waktu direhab kami sependapat sanaos henteu taram geh ulah nepi ka digentos atanapi dihilangkeun. (Pesan Mama Caringin agar ciri khas dari beliau jangan sampai dihilangkan. Makanya waktu dilakukan rehab warga sependapat walaupun rehabnya tidak tuntas jangan sampai ciri khasnya diganti atau dibuang),” ujar H. Ilyas.
Hingga kini masjid kuno ini masih rutin digunakan sebagai media syiar Islam. Antara lain shalat berjamaah 5 waktu, shalat Jum’at, shalat tarawih, shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Juga berbagai kegiatan keagamaan lainnya seperti Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dan pengajian mingguan bagi warga setempat. (Naskah: Said, Foto: Rifal)



