Pandeglang (Kemenag) – Jalan berlumpur dan bebatuan tajam menjadi pemandangan yang harus dilalui untuk sampai ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) Babunnajah, sebuah madrasah sederhana yang terletak di Kampung Lasem, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang. Medan yang berat itu tak hanya dilalui sesekali, melainkan menjadi bagian dari perjuangan sehari-hari para guru dan murid demi mempertahankan hak atas pendidikan.
Jumat siang (09/01/2026), Kementerian Agama Kabupaten Pandeglang menempuh perjalanan tersebut dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama. Rombongan dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pandeglang, didampingi Kasubbag Tata Usaha, Kasi Pendidikan Madrasah, Kasi PAIS, Ketua IPARI, Kepala KUA Kecamatan Sobang, para Penyuluh Agama, Kepala Madrasah, serta Ketua dan jajaran Panitia HAB ke-80.
MI Babunnajah berdiri dengan segala keterbatasan. Madrasah ini hanya memiliki satu ruang kelas yang layak dipakai, menampung sekitar 30 peserta didik, dan dijalankan oleh dua guru, Muslihatunnisa dan Karinah. Bangunan yang tidak layak serta minimnya sarana prasarana menjadi tantangan besar, namun tidak pernah memadamkan semangat belajar anak-anak maupun dedikasi para pendidiknya.

Perjalanan menuju madrasah ditempuh sekitar 2 hingga 3 kilometer dari Kampung Sobang dan dimulai sejak pukul 13.30 WIB. Jalanan licin, berlumpur, dan berbatu menjadi saksi keteguhan para guru yang selama ini dengan penuh keikhlasan terus mengabdi demi masa depan murid-muridnya.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pandeglang menyampaikan rasa syukur atas kesempatan bersilaturahmi langsung dengan keluarga besar MI Babunnajah. Ia mengapresiasi semangat belajar masyarakat meskipun berada di wilayah terpencil.
“Alhamdulillah, dalam rangka Hari Amal Bakti ke-80, kami dapat berkunjung ke MI Babunnajah yang berada di tengah hutan. Meski dengan keterbatasan sarana dan bangunan, semangat belajar anak-anak dan dukungan masyarakat sangat luar biasa. Ini menjadi nikmat dari Allah SWT karena kami dapat bersilaturahmi secara langsung,” ungkapnya.

Sementara itu, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Pandeglang menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bentuk dukungan moral serta ajakan kepada seluruh pihak untuk bersama-sama peduli terhadap pendidikan madrasah.
“Pendidikan madrasah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama. Kunjungan ini menjadi komitmen Kemenag untuk terus hadir dan memberikan dukungan nyata bagi para guru dan peserta didik, khususnya di daerah terpencil,” ujarnya.

Di tengah kunjungan tersebut, kisah pengabdian Muslihatunnisa , guru MI Babunnajah yang telah 16 tahun mengajar, menjadi potret ketulusan seorang pendidik. Bersama satu rekannya Karinah, ia mengajar dengan penuh kesabaran meski harus menghadapi keterbatasan fasilitas dan kondisi ekonomi sebagian murid.
“Kami hanya berdua, tetapi kami ikhlas mengajar di sini karena melihat semangat anak-anak. Beberapa murid kami sudah melanjutkan hingga SMA dan SMK. Kehadiran Kemenag hari ini sangat memotivasi kami untuk terus bertahan dan mendidik mereka agar memiliki masa depan yang lebih baik,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Dalam kesempatan tersebut, Kemenag Kabupaten Pandeglang menyalurkan bantuan sosial sebagai bentuk kepedulian dan perhatian terhadap MI Babunnajah. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban serta menjadi penyemangat bagi para guru dan siswa dalam menjalani proses belajar mengajar.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan potret nyata bahwa di balik keterbatasan, harapan dan semangat pendidikan tetap tumbuh. Di MI Babunnajah, di tengah hutan dan lumpur, mimpi-mimpi anak bangsa terus dijaga oleh tangan-tangan tulus para guru.



