Pandeglang (Inmas) – Sesi pertama hari ketiga UAMNB-BK di MTsN 1 Pandeglang baru saja berakhir. Bagas Prasetya dengan tenang mengklik menu logout pada aplikasi UAMBN-BK di layar personal computer(PC) lalu bergegas keluar ruang ujian, mengikuti teman-temanya yang lebih dulu keluar. Bagas tak dapat menyembunyikan kelegaan di wajahnya. Bagaimana tidak, ia baru saja menyelesaikan ujian daring (dalam jaringan) yang diikutinya 3 hari berturut-turut, Rabu-Jum’at, 20-22 Maret 2019.
“Cara mengisinya gampang kok. Tinggal klik aja pilihan jawaban A, B, C atau D. Yang penting baca soal dan pilihan jawabannya yang teliti. Kalau mikirnya enggak kelamaan, waktunya cukup kok,” cerocos anak ketiga pasangan H. Utom Bustomi dan Popon, saat ditemui Jum’at (22/3).
Buat “anak kota” yang belajar di madrasah negeri seperti Bagas, pembelajaran berbasis teknologi informasi pastinya bukan barang baru. MTsN 1 Pandeglang tempatnya belajar, sudah memiliki lab komputer yang bisa digunakan untuk latihan. Madrasahnya juga sewaktu-waktu menerapkan ulangan menggunakan smartphone atau handphone android. Belum lagi di rumahnya sang kakak memiliki laptop yang bisa dipinjamnya untuk tugas-tugas sekolah.
“Selama tiga hari ujian, saya perhatikan anak-anak enjoy. Ini memang eranya mereka, era milenial. Maka ujian yang sesuai buat mereka adalah ujian berbasis komputer. Ujian zaman now,” kata Kepala MTsN 1 Pandeglang Tati Jumiati.
Tentu tidak semua anak madrasah seberuntung Bagas dan kawan-kawan. Tahun ini terdapat 9.383 siswa MTs yang mengikuti ujian. Dari jumlah tersebut, hanya 1.443 siswa yang belajar di 7 MTsN di Kabupaten Pandeglang. Sedangkan 7.940 siswa lainnya bersekolah di 195 MTs swasta yang sebagian besar belum memiliki infrastruktur yang layak.
Novi Jeni Sakira misalnya. Anak ketiga dari pasangan Jani dan Sartiah ini bergiliran dengan 57 rekannya mengikuti “kursus singkat” praktek komputer di MTs MALNU Kadukaung Saketi, tempatnya menimba ilmu tiga tahun ini. Novi dan dan teman sekelasnya bergantian praktek menggunakan 10 unit komputer yang ada di madrasah. Mereka berkesempatan praktek kurang lebih 10 kali termasuk 2 kali simulasi dan 1 kali gladi bersih.
Namun saat diminta membandingkan ujian berbasis komputer dengan ujian memakai kertas dan pensil, tanpa ragu Novi memilih ujian menggunakan komputer. “Ujian dengan komputer lebih simpel, kita tidak perlu repot membawa alat tulis lagi,” jelas Novi.
Pilihan yang sama juga dinyatakan oleh Eneng Aisah Wulandari, siswi MTs Darul Ibtida Kutakarang, Kecamatan Cibitung yang termasuk madrasah swasta paling “pinggir” di kawasan Pandeglang selatan. Anak dari Kaer dan Sumi ini mengaku ujian komputer lebih hemat waktu.
“Lebih memudahkan juga karena layar komputer menampilkan soalnya satu-persatu. Jadi kita bisa lebih fokus. Pakai kertas kita dituntut lebih teliti sebab kertas menampilkan banyak soal. Kalau kurang teliti bisa tertukar dalam mengisi antar nomor jawaban,” jelas anak pasangan Kaer dan Sumi ini.
Sebelum ujian, Eneng dan kawan-kawan sempat latihan praktek komputer 12 kali. “Untuk ujian kami baru punya 14 unit. Laptopnya ada 5 komputernya ada 9. Itu juga sebagiannya dapat ngredit pak,” ungkap Tatang Abdurohman, Kepala MTs Darul Ibtida.
Di madrasah terpencil ini terdapat 39 peserta ujian, termasuk Eneng, yang menikmati infrastruktur “mewah” UAMBN-BK di tengah keterbatasan. Dengan 14 client yang ada, mereka dibagi dalam 3 sesi ujian di ruang kelas berdinding bilik bambu.
Tak hanya siswa yang lebih menyukai penyelenggaraan ujian berbasis komputer. Apresiasi positif juga datang dari Kepala Madrasah. “Kalau sarananya sudah tersedia, sebenarnya lebih efektif dan efisien dengan komputer,” kata Tati Jumiati.
Lebih jelas Kepala MTsN 1 Pandeglang ini mengilustrasikan ujian untuk 300 peserta. Kalau memakai kertas harus menyediakan 15 ruang, masing-masing ruang 20 peserta. Dibutuhkan pengawas 15 x 2 = 30 orang. Sedangkan dengan komputer cukup 4 ruang karena 1 ruang bisa untuk 3 sesi, dimana masing-masing sesi bisa 20 sampai 30 anak. “Kalau ujian dengan komputer menggunakan 4 ruang, pengawasnya cukup 8 orang saja, karena mereka mengawas dari sesi 1 sampai sesi 3,” jelas Tati.
“Hasil kerja anak juga bisa dikirim secara online, tanpa perlu mengeluarkan biaya untuk transport. Tidak perlu juga biaya pengkoreksian atau pemindaian karena hasil ujian langsung masuk ke server pusat dan bisa langsung diolah,” tambah Tati.
Berbagai apresiasi positif penyelenggaraan UAMBN-BK membuat sumringah birokrat di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten. Menurut Kepala Seksi Kurikulum dan Evaluasi Kanwil Kemenag Provinsi Banten Hidayat Mustafid, kemungkinan tahun depan moda ujian ini akan mulai menyasar ke jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI).
“Tahun depan USBN jenjang MTs dan MA akan 100 persen online juga. Bahkan kemungkinan ujian Madrasah Ibtidaiyah yang 5 mata pelajaran juga akan dilakukan berbasis komputer. Tapi memang infrastrukturnya harus disiapkan dulu,” jelas Mustafid, seraya merinci 5 pelajaran yang dimaksud yaitu: Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab. (Nursaid)


