Lahir di Kota Bandung, 23 tahun yang lalu, aku Anis Lathifah Ulfah tak pernah bercita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil. Kalau boleh jujur, aku yang merupakan anak dari seorang penjahit ini, semula bercita-cita menjadi dokter gigi.
Sayang, impian itu harus kandas karena aku gagal memasuki fakultas kedokteran gigi pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) meskipun sudah dua kali aku mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) .
Takdir kemudian membawaku untuk berkuliah di Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Aku pun berhasil menyelesaikan Sarjana Pendidikan, dan diwisuda pada 10 Oktober 2018 lalu.
Tak jauh dari waktu wisuda, ternyata ada pembukaan penerimaan CPNS serentak. Banyak orang mulai bersiap untuk melamar menjadi PNS, tapi aku teteap tak tertarik. Kebetulan, aku juga telah memiliki pekerjaan. Sebelum diwisuda, aku telah mengajar di salah satu SMK Swasta di Bandung.
Pun ketika Bapak menyampaikan impiannya agar aku mendaftar menjadi PNS Kemenag karena saat itu formasi yang dibuka cukup banyak, hatiku pun tetap bergeming. “Aku tak ingin ikut ujian CPNS,” kukuh ku saat itu.
Mendengar itu, Bapak tak dapat menyembunyikan kecewa dari raut wajahnya. “Kalau Bapak umurnya sedikit lagi gimana?” tuturnya saat itu dengan raut sedih.
Semenjak itu, Beliau pun tak pernah lagi mengajakku bicara. Aku menangis. Tak menyangka kata-kata itu keluar dari sosok Bapak. Orang yang selama ini paling sabar menghadapiku. Hati ku pun goyah. Aku mulai memantapkan langkah untuk sekedar mengikuti tes CPNS.
Aku pun mengikuti tahapan awal seleksi yang dilaksanakan dengan Computer Assisted Test (CAT). Niatku saat itu, hanya ingin memberikan bukti pada Bapak bahwa aku telah mengikuti tes CPNS. Sekedar menghilangkan rasa canggung, karena aku telah membuatnya kecewa.
Tak disangka, aku berhasil melalui CAT dengan mulus. Aku memperoleh skor cukup tinggi dan berhak mengikuti Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Pada tahap SKB itu, aku mendengar banyak orang yang menggebu ingin diterima. “Beruntung kalau kamu lulus PNS. Orang lain mah harus nunggu bertahun-tahun,” ujar seorang yang kutemui saat SKB.
Lagi-lagi perkataan itu ku tanggapi dengan tersenyum saja.
Waktu yang ditunggu-tunggu CPNS Kemenag pun tiba. Tanggal 15 Januari 2019 malam, pengumuman CPNS Kemenag menyebut nama ku lolos tahapan SKB. Seketika langsung aku sujud syukur.
Segera ku raih ponsel pintarku dan mengetik pesan singkat kepada Bapak.
“Pak enis lulus cpns,” ujarku singkat.
Pesan singkatku baru dibalas Bapak keesokan harinya. “Alhamdulillah, syukur nis bp bangga,” tulis Bapak.
Air mataku pun tumpah. Bapak memang jarang sekali memujiku, beliau seorang yang pendiam. Mengetahui kenyataan aku bisa membuatnya bangga, adalah sebuah kebahagiaan yang tak bisa terucap kata.
Terbayang kembali kala beliau hadir di wisuda sarjana ku meski harus berjalan menggunakan tongkat. Ya, pada Februari 2018 kaki Bapak patah akibat kecelakaan sewaktu membeli kain sebagai bahan jahitan.
Terbayang pula bagaimana ia selama ini berjuang membiayai kami anak-anaknya dengan usaha jahitan yang dia miliki. Sejak pagi buta hingga tengah malam ia bekerja mencari nafkah. Pernah suatu kali tangannya terluka hebat karena terluka akibat mesin pemotong kain.
Pengorbanannya semoga tak sia-sia. Mengetahui aku diterima CPNS Kemenag membuatnya sangat bahagia. Dia tahun sebelumnya adikku juga lulus di STAN yang otomatis akan diangkat menjadi PNS Kementerian Keuangan.
Teruntuk Bapak, ini semua adalah jawaban atas doa-doa mu. Kini tugasku untuk membahagiakanmu. Salah satunya menjalani kewajiban, menjadi CPNS Kemenag.


