Pandeglang (Humas) – Sepintas tidak ada kesan kuno dari Masjid Jami’ Manungtung. Hampir seluruh dindingnya telah berlapis keramik berwarna putih. Demikian pula atap bertingkat duanya yang sudah diganti dengan genting press. Namun tak dinyana masjid yang berdiri di Kampung Manungtung Desa Cilaban Bulan Kecamatan Menes merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Pandeglang.
Menurut data KUA Kecamatan Menes, Masjid Jami’ Manungtung didirikan tahun 1810 di atas tanah wakaf dengan luas bangunan 15×20 M2. Selain masjid tersebut, di Desa Cilaban Bulan juga masih ada Masjid Mifthul Jannah dan Masjid Ar-Rohman yang masing-masing berlokasi di Kampung Manungtung Peuntas dan Kampung Kadukendi.
Tentang tahun berdiri Masjid Jami’ Manungtung, belum ada data valid yang dapat dijadikan rujukan. Namun menurut Ustad Abdul Hakim, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Manungtung, berdasarkan cerita terdahulu masjid ini dibangun setelah pembangunan Masjid Salafiyah di Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Pandeglang.
Ustad Hakim juga mengatakan, bukti sejarah yang menunjukkan tahun didirikannya masjid ini memang belum pernah dilihatnya, namun ia mendapatkan informasi bahwa catatan mengenai masjid ini ada di Masjid Caringin. “Catatannya katanya adanya di Caringin. Sebab masjid ini adalah masjid kedua setelah Masjid Caringin,” kata Ustad Hakim.
Jika pembangunan Masjid Caringin yang dijadikan rujukan, artinya usia Masjid Manungtung sudah lebih dari 2 abad. Sebab Masjid Caringin dibangun tahun pada 1884, setahun setelah letusan Gunung Krakatau oleh KH. Asnawi Caringin, seorang ulama besar sekaligus pejuang kemerdekaan melawan Belanda.
Menurut Ustad Hakim, semula masjid ini dikenal dengan nama Masjid Cikoneng, mengacu nama kampung dimana masjid ini berada. Nama kampung tersebut kemudian berubah menjadi Manungtung dan nama masjidnya pun ikut berganti nama menjadi Masjid Manungtung. “Kenapa dikatakan Manungtung? Karena pada waktu itu (jaman Belanda) banyak warga yang digantung karena melawan Belanda,” jelas Ustad Hakim.
Di zaman perang kemerdekaan, tutur Ustad Hakim, Masjid Manungtung berperan sebagai pusat perjuangan. “Kenapa disebut masjid perjuangan? Sebab sebelum berangkat melawan Belanda biasanya para pejuang kumpul dulu bermusyawarah di masjid ini. Itu cerita dari kakek saya,” papar Ustad Hakim yang sudah lebih dari 20 tahun menjadi Ketua DKM di masjid itu.
Berdasarkan cerita dari para kakeknya pula, pada masa awal-awal didirikan masjid tersebut pusat kegiatan ibadah umat Islam dari Menes dan sekitarnya. “Menurut orang-orang tua dulu, jemaah Jum’at di masjid ini datang dari luar Menes. Sebelah utaranya dari Mandalawangi dan sebelah selatannya dari Kadubera. Mereka biasanya sudah berdatangan dari hari Kamis dan bermalam di sini,” ujarnya.
Merunut penuturan para sesepuh Kampung Manungtung, sebagaimana disampaikan Ustad Hakim, cakupan masjid ini cukup luas. Sebab Mandalawangi berada tidak kurang dari 12 kilometer di sebelah utara Menes, sedangkan Kadubera yang sekarang menjadi bagian dari Kecamatan Picung berjarak tidak kurang dari 15 kilometer ke sebelah selatan Menes. Hal ini tentu tidak lepas dari masih sangat terbatasnya jumlah masjid di masa itu selain karena daya tarik Masjid Manungtung sebagai masjid perjuangan melawan penjajah.
Kendati sudah berusia lebih dari 200 tahun, hingga kini Masjid Manungtung masih utuh tanpa banyak perbaikan berarti. “Bentuknya tidak kami rubah. Hanya dindingnya saja yang diperkuat dengan keramik karena kami khawatir rapuh. Atapnya juga kami ganti dengan genting press karena genting tanah jaman dulu sudah rapuh,” jelas Ustad Hakim yang pensiunan guru SD.
Berbagai aktifitas keagamaan masih rutin dilaksanakan di masjid ini. Selain shalat berjamaah 5 waktu, shalat Jum’at, shalat tarawih, tadarus al Qur’an, shalat Idul Ftiri dan Idul Adha, juga masih digunakan untuk untuk pengajian mingguan. Selain itu, perayaan hari besar Islam seperti maulid dan isra mi’raj juga rutin digelar di masjid ini. (Naskah: Irwan, Foto: Sopian)



